OUR PARTNER

Warga Desa Kawasan Dieng Minta Ribuan Bibit Pohon PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 24 Desember 2012 00:00
bibt rkl 2012
Nggak tau pasti apakah ini sebagai gambaran atas kesadaran masyarakat akan arti pentingnya pohon bagi mereka atau karena hal lain, yang jelas tahun 2012 banyak warga yang tersebar di 27 desa kawasan Dieng mengajukan permintaan bibit tanaman keras berbagai jenis seperti : Albasia,Suren Akasia Dekuren,Jenitri, Eucaliptus dan cemara siuk.

Kalau ditotal jumlahnya lebih dari 25.000 batang dan ini merupakan permintaan warga desa yang telah kita kunjungi semua, jelajah desa sebagai ajang untuk mengetahui berbagai permasalahan yang terkait dengan konservasi lahan tahun ini sering menemukan hal - hal baru yang sebelumnya tidak kita perkirakan ujar Indah pujiyati dari managemen RKL 2012 bappeda Wonosobo dan semuanya akan kita penuhi melalalui program RKL tahun ini, yang paling penting adalah pengawalan dengan serius untuk memastikan apakah yang mereka sampaikan memang benar begitu adanya atau karena hal lain, tutup Indah yang tahun ini sangat sibuk mengurusi program RKL ini. 

Desa yang pada awalnya kami kira belum mau untuk melakukan penanaman bibit pohon ternyata ketika dikunjungi ke lapangan sudah banyak yang tumbuh besar bahkan ada beberapa diantaranya yang melakukan inisiatif pribadi terlebih lagi yang berkaitan dengan penyelamatan mata air, untuk beberapa desa sudah aktif berperan dan aktif secara personal maupun kelompok.

Greget Warga desa untuk melakukan upaya penyelamatan lingkungan melalui konservasi lahan yang diusung program RKL tentunya menggembirakan kita semua, untuk beberapa desa yang pada awalnya sulitpun saat ini sudah sangat mudah bahkan warga tidak lagi memikirkan berapa ongkos tanamnya untuk mereka, berapa pupuk yang akan diterima dan semua bentuk "ndremis" lain,yang penting mereka dapat dibantu bibit pohonnya saja sudah sangat senang dan menanam dilahan mereka ,selanjutnya tidak lagi dicabuti seperti dulu, kalau sekarang dapat dipastikan akan mereka pelihara dengan sungguh-sungguh.

Kalau boleh nyombong barangkali inilah yang disebut dengan keberhasilan, khususnya dalam penyiapan masyarakat dalam menghadapi berbagai permasalahan yang terkait dengan kerusakanlingkungan dan meningkatkanya kemiskinan, karena selain dengan urusan tanaman -menanam program RKL yang digawangi oleh Tim dari Bappeda dan TKPD ini juga secara rutin melakukan peningkatan kapasitas petani melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan, sarasehan, belajar antar petani, silaturahmi dengan petani dan kegiatan lain, yang selama ini selalu disalahkan oleh pihak pusat dan Provinsi yang lebih banyak berpikir fisik lahan dan selalu bertanya berapa luas tutupan lahannya, terjunannya ada berapa,sumur resapan ada berapa, bibitnya tumbuh apa tidak dan lain-lain yang semuanya fisik.

Pemikiran untuk melakukan instalasi terlebih dahulu bagi warga desa menjadi pilihan TKPD untuk menyiapkan software dan system terbaik dihati dan otak petani, sehingga nantinya akan dijejali program apapun sudah memiliki orientasi yang lebih baik, tidak sekedar proyek-proyek dan kepentingan sesaat, pemikiran tersebut ternyata benar adanya dan walaupunn selama ini disalahkan oleh pihak lain bisa jadi akhirnya mereka juga yang akan menikmati hasilnya.karena lebih mudah masuk berbagai desa yang telah siap.

Nah kalau sudah seperti ini terkadang merepotkan juga ya... kalau musim hujan tiba banyak sekali permintaan bibit pohon, hampir setiap ketemu warga desa mulai dari petani, kelompok peduli lingkungan dan yang lain selalu saja mereka menanyakan masih punya bibit lagi apa tidak... kelompok tani  kami mau menanam dilahan yang sebelah sana diblok ini itu, hal ini kadang menjadi sesuatu yang menantang tapi kita semua terbatas pada beberapa hal, lalu apa yang akan kita lakukan ketika kesadaran itu sudah muncul, ketika semangat dari orang-orang lemah dan tidak terperhatikan itu muncul ? 
 
Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?..... 
Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 09 Februari 2013 15:35 )
 
Mendorong Inovasi Percepatan Pencapaian MDGs PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 20 Desember 2012 00:00
dialog kemitraan
Dalam membantu tugas pemerintah melakukan pemulihan lingkungan dan pemberantasan kemiskinan serta pencapaian tujuan pembangunan millennium (Millennium Development Goals-MDGs), berbagai bentuk kemitraan antara korporat / dunia usaha dengan Pemkab Wonosobo sudah terjalin. Beberapa aktifitas bahkan berhasil mendapatkan penghargaan dan liputan dari berbagai media, dan berhasil menginspirasi pengembangan program sejenis.

Dalam perkembangannya, muncul beberapa gagasan untuk memperkaya bentuk-bentuk inovasi dan model kemitraan antara korporat/dunia usaha dengan masyarakat dan pemerintah, sejalan dengan keinginan untuk untuk mempercepat pencapaian MDGs.
Salah satu prakarsa yang sedang digagas adalah mendokumentasikan inisiatif pelaku perubahan di kalangan masyarakat dalam bidang-bidang yang mendukung percepatan MDGs, sehingga bisa menjadi inspirasi bagi berbagai elemen masyarakat. Gagasan ini sejalan dengan amanat pemerintah pusat agar upaya pencepatan percapaian tujuan pembangunan milenium melibatkan peran berbagai pemangku kepentingan secara luas.
 
Berikut pemaparan Kepala bappeda Kabupaten Wonosobo terkait dengan ide dan gagasan tersebut.
 
Tanggungjawab percepatan pencapaian tujuan pembangunan milennium –sering kita kenal dengan istilah Millennium Development Goals- semakin urgent, apalagi menjelang tahun 2015, yang diniatkan menjadi momentum pencapaian bersama secara internasional.
Di sisi, pesimisme menghinggapi banyak kalangan bahwa langkah pencapaian target MDGs sulit terwujud tahun 2015, karena selama ini Pemerintah dianggap kurang menyertakan keterlibatan elemen non pemerintah. Selain itu, metode yang dipakai juga lebih banyak program based, menyedot biaya besarm, dan kurang mementingkan skema keberlanjutan.
Maka, dalam konteks tersebut, baru-baru ini Bappeda mengadakan diskusi dan training internal tentang Strength Based Approach (SBA), atau Pendekatan berbasis kekuatan. SBA ini bisa didorong menjadi model untuk Asset-Based Community Development (ABCD), atau pembangunan komunitas yang bertumpu pada masyarakat sebagai aset, bukan sebagai obyek.
Dari diskusi dan brainstorming pada event tersebut, maka muncul semacam ide untuk mencoba pendekatan baru untuk pemberdayaan dan percepatan MDGs. 
 
Jika sebelumnya, model pendekatan Problem Solving Approach (PSA) banyak dipakai, maka  muncul alternatif Strength-Based Approach (SBA) dan ABCD tersebut.
 
PSA adalah model yang sangat lazim diterapkan; dimulai dari menemukan maslaah, mencoba mencari solusi, dan biasanya berakhir pada rancangan program berikut rencana anggarannya.
 
Sebaliknya, SBA dimulai dari menemukan kekuatan masyarakat, dan memupuk kekuatan tersebut sebagai energi.
Jika PSA biasanya mengandalkan sumber daya pemerintah untuk menyelesaikan masalahnya, maka SBA justru mengandalkan kepada masyarakat untuk menyelesaikan persoalannya sendiri.
 
Maka, dengan perspektif tersebut, event ini kemudian digagas, bersamaan dengan munculnya ide mengumpulkan inspirator –atau kita sebut jawara—yang sebenarnya sudah ada di masyarakat. 
 
Dalam pendekatan SBA, asumsi dasarnya adalah bahwa masyarakat itu punya kekuatan sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Tugas pemerintah sebagai fasilitator adalah melakukan “appreciative inquiry” atau “semacam menggali dan menemukan kekuatan-kekuatan yang ada di komunitas maupun individu”.
 
Metode ini sedang banyak dicoba oleh berbagai pihak sebagai model alternatif dalam upaya pecepatan MDGs. Dalam pemikiran kami di Bappeda, khususnya dalam konteks mendorong percepatan pencapaian MDGs,  metode ini layak dicoba, dan disinergikan dengan pendekatan yang sudah diterapkan pemerintah.
 
Langkah awal dari implementasi ini aadalah, menemukan aktor atau individu yang sudah melakukan perubahan dalam bidang-bidang yang relevan dengan MDGs. Ada 8 isu MDGs, yaitu mengurangi kemiskinan dan kelaparan, mensukseskan pendidikan dasar, mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menekan kematian bayi dan meningkatkan derajat kesehatan ibu melahirkan, memerangi HIV/AIDs dan penyakit menular, mendorong keberlanjutan lingkungan, serta kemitraan global untuk pembangunan.
 
Sesuai dengan pendekatan “think globally, act locally”, maka dalam pemikiran kami, terbuka peluang untuk melakukan inisiatif melalui parade jawara ini. Pemerintah menyediakan “panggung” dan arena bagi mereka para jawara untuk menceritakan inisiatif yang sudah dilakukan, mendokumentasikan cerita tersebut dan menyebarluaskannya kepada sebanyak mungkin komunitas. Diharapkan akan muncul inspirasi-inspirasi baru, dan mendorong masyarakat bergerak melalui energi mereka sendiri. Prinsip pendekatan SBA adalah masyarakat akan bergerak bila mereka menemukan energi dalam dirinya sendiri, Tugas pemerintah adalah membantu masyarakat menemukan energi dan kekuatannya.
 
Jika dikemas secara pas, maka Pemerintah tinggal mengalihkan dana yang tadinya untuk pemberian bantuan menjadi dana bagi pembuatan vent dan dokumentasi. Jika pemerintah bisa mengintrodusir pendekatan SBA ini, otomatis akan mengurangi bantuan-bantuan pemerintah karena disinyalir pemberian bantuan kepada masyarakat justru melemahkan energi mereka. Dalam sebuah survei yang dilakukan TKPD, persepsi masyarakat terhadap bantuan pemerintah adalah “gratis, tidak perlu dipertanggungjawabkan, dan tidak perlu dikelola secara transparan”. Maka pendekatan memberi bantuan harus diubah menjadi pendekatan memfasilitasi masyarakat untuk menemukan energinya, sehingga mau bergerak untuk perubahan dan peningkatan kesejahteraan.
 
Dalam konteks itulah, kita menggagas Dialog Kemitraan Pemkab Wonosobo dengan Korporat dan Dunia usaha untuk mendorong inovasi percepatan pencapaian MDGs melalui parade jawara dan inspirator untuk Wonosobo lebih baik.
 
Direncanakan, parade jawara ini akan bersamaan dengan Momentum Hari Jadi Wonosobo Tahun 2013.
Tentu, draft gagasan yang kami paparkan ini masih perlu mendapat penguatan dan pengkayaan ide dari berbagai pihak. 
Secara tidak langsung, ide ini akan relevan dengan program percepatan pencapaian MDGs, Program pemulihan Dieng, Program Kemitraan CSR dalam bidang sosial serta program-program yang menyangkut hajat hidup orang banyak yaitu pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, serta infrastruktur perdesaan dan sanitasi lingkungan. 
Akhirnya, kami meminta apresiasi dan dukungan segenap pihak untuk merealisasikan gagasan ini, demi Wonosobo yang lebih baik.

disampaikan dalam acara Dialog kemitraan pemkab Wonosobo dengan Korporat dan Dunia Usaha bulan Desember 2012

Drs.Amin Suradi,M.Si ( Kepala Bappeda Kabupaten Wonosobo )
Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 09 Februari 2013 14:19 )
 
RKL Bappeda Berhasil fasilitasi Pembuatan Film Dokumenter PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 13 Desember 2012 00:00
film rkl 3
 
Jaman sekarang ini Sudah tidak dapat dipisahkan lagi antara teknologi informasi dengan manusia,semua harus selalu berdekat-dekatan, bukan hanya masyarakat perkotaan akan tetapi masyarakat petani yang dikenal hidup sederhanapun melakukan hal yang sama.

Film sebagai media kampanye untuk masyarakat memegang peran penting untuk pemahaman tentang konsep pemikiran dari pihak yang membuatnya, seperti halnya pada jaman dulu di desa - desa sering diputarkan film kampanye tentang keluarga berencana (KB) yang telah didesain menjadi sebuah gerakan yang bersifat dinamis dan menyeluruh.

Demikian juga dengan program RKL, tahun 2012  ini berhasil memfasilitasi pembuatan 3 judul Film dokumenter pemulihan lingkungan kawasan Dieng, film ini rencananya akan digunakan untuk berbagai kegiatan dilapangan ,pada saat dilakukan kampanye ,sosialisasi dan berbagai pertemuan pertemuan, selain itu juga digunakan untuk melengkapai data dan dokumentasi DIC ( Dieng Information Centre)

Tiga buah Film tersebut adalah :
  1. Dunia Tak Selebar Daun Kentang
  2. Jejak-Jejak Inspirator
  3. Penerapan Pendidikan Lingkungan dan Budaya di Kawasan Dieng.

Dunia tak selebar daun Kentang bercerita tentang kemampuan daya dukung dan daya tampung kawasan Dieng,dimana ada ketidak seimbangan yang akan membahayakan bagi kehidupan dimasa yang akan datang, alternatif solusi dimunculkan dalam film ini berdasarkan penuturan beberapa tokoh agama dan tokoh masyarakat yang memunculkan solusi versi mereka sendiri termasuk didalamnya untuk melakukan migrasi ke lokasi lain, dan migrasi jenis usaha ekonominya.

jejak-jejak Inspirator mengisahkan tentang masyarakat yang telah bergerak dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk berubah dan menjadi bahan pemikiran bagi yang lain untuk meniru, Jejak inspirator lebih menggambarkan tentang bagaimana para inspirator tersebut melakukan sesuatu dan bagaimana hasil yang telah diperolehnya.tokoh yang ada dalam Film ini antara lain. KH,Mahrus Serang sebagai kyai Konservasi, kang Jamal Dengan Dombanya, Ahmad Kahfi dengan lahan-lahan Konservasinya dan Indra Pemuda yang semula bertani kentang dan saat ini telah beralih dalam usaha bonsai dengan hasil yang lebih baik dari tanaman sebelumnya.

Penerapan Pendidikan Lingkungan dan Budaya di Kawasan Dieng, menggambarkan tentang perlunya pendidikan lingkungan kawasan Dieng yang sudah tidak dapat ditawar lagi, dimunculkan juga pendapat para pakar pendidikan kabupaten Wonosobo dan Tim Kerja Pemulihan Dieng yang sejak tahun 2008 telah menginisiasi kurikulum pendidikan lingkungan di kawasan Dieng, gambar dan tokohnya semuanya dari pihak-pihak lokal Wonosobo.
 
Dalam pembuatuan Film seperti ini tentunya bukan pekerjaan mudah sehingga semua anggota Tim Kerja Pemulihan Dieng dan Bagian Fispra bappeda selama 3 bulan secara rutin mengadakan banyak pertemuan serius untuk membahas setting, lokasi,alur cerita , waktu Syutingnya,siapa yang akan menjadi aktornya dll. Pembuatan Film adalah pekerjaan seni yang membutuhkan ketajaman rasa dan kepekaan sosial agar ceritanya dapat mengena saat disajikan ditengah masyarakat yang akan melihatnya, ujar Tafrihan pimpinan Nomaden Art yang didapuk untuk membantu  pembuatan Film ini, Pembuatan Film hampir sama dengan ketika kita membuat cerpen, menulis novel dan sejenisnya tapi yang ini lebih sulit karena mewujudkan ide gagasan dan cerita yang terus menyambung dalam kemasan audio visual, disini butuh kebebasan dan kegilaan eksplorasi ide agar tujuannya kena dan pas dengan target siapa yang akan melihat film kita, tutup Tafrihan
 
film rkl 1
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
film rkl 2
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 09 Februari 2013 06:19 )
 
Tanah ini sudah saya sewa... jadi semua terserah saya dong mengolahnya PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 12 Desember 2012 00:00
save rkl
Keterbatasan kepemilikan lahan dikawasan dieng dapat diatasi oleh petani yang agak berhasil dengan cara menyewa tanah garapan baik di desa sendiri maupun didesa lain bahkan banyak yang sampai kecamatan lain ataupun kabupaten lain yang masih masuk pada kawasan Dieng.

Berawal dari pertimbangan modal yang sudah dikeluarkan oleh para penyewa tersebut kemudian berlanjut pada model pengelolaan dan pengolahan lahan yang berorientasi hanya pada hasil besar dalam waktu yang sangat cepat.

Ketika TKPD melakukan wawancara dengan salah seorang penyewa lahan dengan enteng dia menjawab " tanah ini sudah saya sewa, jadi mau diapakan saja ya terserah saya dong, mau tak guntur-gunturke juga terserah saya".

ini adalah realita yang terjadi dibanyak desa kawasan Dieng,upaya penyadaran lingkungan kepada petani bisa jadi sedikit banyak bisa dikatakan cukup berpengaruh pada perilaku petani akan tetapi ketika disebuah desa sudah terjadi kesadaran kolektif yang muncul kemudian adalah permasalahan sewa lahan oleh pihak luar. 

Di desa Igirmranak kejajar misalnya, disepanjang jalan menuju desa dapat disaksikan setiap harinya,model -model pengolahan lahan yang sama sekali tidak memperhatikan kaidah sosial dan konservasi,lahan miring tersebut diolah dengan cara yang paling mudah menurut mereka, bahkan sengaja dilongsorkan ketepian jalan, ketika dikonfrimasikan kepada kepala desa dan perangkat, 

ternyata pengolah tersebut berasal dari luar kabupaten, pernah beberapa kali diingatkan tapi tetep ngeyel ujar Joko Tri sadono Kepala desa Igirmranak, kalau bisa akan kami denda dengan pajak bumi yang sangat tinggi, akan tetapi saya tidak tahu dasar hukum dan caranya, lanjut Joko.

Bukan Hanya di Igirmranak kejadian tersebut  berlangsung, masih banyak didesa lain yang mengalami hal serupa , sebagian besar para penyewa ini selalu punya hitungan bisnis sendiri, dari mulai pengolahan tanah untuk persiapan penanaman tanaman semusim saja sudah barang tentu selalu menggunakan cara mudah dan murah yang penting hasil melimpah... tanah ini sudah saya sewa... jadi semuanya terserah saya dong...
Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 09 Februari 2013 04:47 )
 
Kelurahan Kejajar dan greget warga untuk mengelola sampah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 11 Desember 2012 00:00
indah dan leny
Kelurahan Kejajar merupakan salah satu bagian dari desa dan keluarahan yang masuk dalam peta kawasan Dieng, tahun 2009 Program RKL pernah melaksanakan kegiatan di kelurahan ini, mulai dari proses kampanye lingkungan, pembuatan terjunan, penanaman tanaman keras oleh petani , peternakan dan berbagai kegiatan ikutan lain termasuk didalamnya pelatihan perencanaan.

Berbagai kegiatan lain setelah tahun tersebut juga cukup banyak dan sebagian besar berupa penanaman tanaman keras dan proses-proses menuju pengelolaan sampah, pengelolaan sampah merupakan hal  mendesak di keluarahan Kejajar karena kelurahan kejajar sering menjadi lokasi yang dibanjiri sampah saat musim hujan, hal tersebut disebabkan karena posisi kelurahan kejajar berada di bawah desa Tieng dan Dusun Gataksari Kejajar, sanitasi dan drainase yang buruk sepanjang jalan menjadikan tidak berfungsinya saluran dan imbasnya adalah air dan sampah bertebaran sepanjang jalan di kelurahan kejajar setelah hujan reda.HUjan kecil saja laupan air pasti terjadi dan lebih parahnya lagi air tersebut selalu disertai dengan sampah organik dan an organik.

Tahun 2012 ini Program Rehabilitasi dan Konservasi Lahan ( RKL) Bappeda kabupaten Wonosobo melaksanakan jelajah desa untuk mendorong Perubahan Bagi Masa Depan Kawasan Dieng , kelurahan Kejajar menjadi bagian dari lokasi yang ikut dijelajahi disampaing untuk sosialisasi tindak lanjut juga untuk melakukan monitoring dari kegiatan dan program tahun- tahun sebelumnya.

Perwakilan tokoh , tokoh perempuan kelompok tani dan LMDH semuanya hadir dalam kesempatan tersebut dan Tim Jelajah desapun melakukan kegiatan dengan beberapa cara :

•Visualisasi banjir bandang di daerah hulu
•Lahan di kawasan dieng sangat terbatas, apabila pertumbuhan penduduk tidak dikendalikan maka daya dukung lahan akan    semakin menurun
•Dana pemerintah terbatas,  masyarakat jangan menggantungkan bantuan dari pemerintah  untuk memulihkan lingkungan

Cara –cara yang bisa dilakukan masyarakat untuk memulihkan daya dukung lingkungan kawasan dieng 
antara lain:
  • Menggalakkan KB
  • Sumber Daya Alam yang ada diolah dengan baik melalui cara-cara  yang sesuai dengan konsep ramah lingkungan
  • Jangan mengandalkan dana dari pemerintah, karena dana pemerintah terbatas Pemerintah hanya bisa memfasilitasi 


4.Evaluasi terkait Program Pemulihan dieng : 
  • Jumlah ternak bantuan Keg. Rehabilitasi dan Konservasi Lahan di Kawasan Dieng  tahun 2009 sekarang sudah menjadi 31 ekor dan sudah digulirkan ke luar kelompok
  • Sedangkan Tanam keras yang hidup bantuan kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Lahan di Kawasan Dieng 2009 hanya 30 % dengan ketinggian 2 - 3 m 
  • Untuk demplot masih terpelihara dengan baik

selain mengevaluasi kegiatan yang dipandu oleh Indah Pujiati dan Leny dari bagian Fispra Bappeda juga dilakukan dengar pendapat dengan masyarakat peserta jelajah desa dan ada beberapa hal menarik yang tentang perkembangan kesadaran warga Kelurahan kejajar baik yang sudah benar-benar sadar tentang lingkungan atau pihak yang masih tetap kukuh pendiriannya untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti dulu tanpa memperhatikan kaidah pengawetan tanah mereka. 
 
Dialog di Kelurahan Kejajar berjalan sangat hidup bahkan waktunya dirasa kurang oleh peserta , beberapa hal yang dapat dsierap antara lain:
  • Di kelurahan Kejajar ada 2 kelompok ibu-ibu yang telah mengelola sampah butuh fasilitasi pelatihan•Bagaimana memacahkan masalah tempat pengumpulan sampah, karena saat ini belum tersedia tempat mengumpulkan sampah
  • Beberapa produsen obat tanaman saat ini telah memberikan bibit tanaman keras sebagai salah satu wujud dari kepedulian lingkungan
  • Minta dibantu sertifikasi bibit kentang
  • usaha ekonomi produktif sudah banyak diusahakan oleh warga seperti pengolahan hasil-hasil pertanian dan kerajinan lain 

Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 09 Februari 2013 03:42 )
 
Artikel Lain...
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 10