 Dalam membantu tugas pemerintah melakukan pemulihan lingkungan dan pemberantasan kemiskinan serta pencapaian tujuan pembangunan millennium (Millennium Development Goals-MDGs), berbagai bentuk kemitraan antara korporat / dunia usaha dengan Pemkab Wonosobo sudah terjalin. Beberapa aktifitas bahkan berhasil mendapatkan penghargaan dan liputan dari berbagai media, dan berhasil menginspirasi pengembangan program sejenis.
Dalam perkembangannya, muncul beberapa gagasan untuk memperkaya bentuk-bentuk inovasi dan model kemitraan antara korporat/dunia usaha dengan masyarakat dan pemerintah, sejalan dengan keinginan untuk untuk mempercepat pencapaian MDGs. Salah satu prakarsa yang sedang digagas adalah mendokumentasikan inisiatif pelaku perubahan di kalangan masyarakat dalam bidang-bidang yang mendukung percepatan MDGs, sehingga bisa menjadi inspirasi bagi berbagai elemen masyarakat. Gagasan ini sejalan dengan amanat pemerintah pusat agar upaya pencepatan percapaian tujuan pembangunan milenium melibatkan peran berbagai pemangku kepentingan secara luas. Berikut pemaparan Kepala bappeda Kabupaten Wonosobo terkait dengan ide dan gagasan tersebut. Tanggungjawab percepatan pencapaian tujuan pembangunan milennium –sering kita kenal dengan istilah Millennium Development Goals- semakin urgent, apalagi menjelang tahun 2015, yang diniatkan menjadi momentum pencapaian bersama secara internasional. Di sisi, pesimisme menghinggapi banyak kalangan bahwa langkah pencapaian target MDGs sulit terwujud tahun 2015, karena selama ini Pemerintah dianggap kurang menyertakan keterlibatan elemen non pemerintah. Selain itu, metode yang dipakai juga lebih banyak program based, menyedot biaya besarm, dan kurang mementingkan skema keberlanjutan. Maka, dalam konteks tersebut, baru-baru ini Bappeda mengadakan diskusi dan training internal tentang Strength Based Approach (SBA), atau Pendekatan berbasis kekuatan. SBA ini bisa didorong menjadi model untuk Asset-Based Community Development (ABCD), atau pembangunan komunitas yang bertumpu pada masyarakat sebagai aset, bukan sebagai obyek. Dari diskusi dan brainstorming pada event tersebut, maka muncul semacam ide untuk mencoba pendekatan baru untuk pemberdayaan dan percepatan MDGs. Jika sebelumnya, model pendekatan Problem Solving Approach (PSA) banyak dipakai, maka muncul alternatif Strength-Based Approach (SBA) dan ABCD tersebut. PSA adalah model yang sangat lazim diterapkan; dimulai dari menemukan maslaah, mencoba mencari solusi, dan biasanya berakhir pada rancangan program berikut rencana anggarannya. Sebaliknya, SBA dimulai dari menemukan kekuatan masyarakat, dan memupuk kekuatan tersebut sebagai energi. Jika PSA biasanya mengandalkan sumber daya pemerintah untuk menyelesaikan masalahnya, maka SBA justru mengandalkan kepada masyarakat untuk menyelesaikan persoalannya sendiri. Maka, dengan perspektif tersebut, event ini kemudian digagas, bersamaan dengan munculnya ide mengumpulkan inspirator –atau kita sebut jawara—yang sebenarnya sudah ada di masyarakat. Dalam pendekatan SBA, asumsi dasarnya adalah bahwa masyarakat itu punya kekuatan sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Tugas pemerintah sebagai fasilitator adalah melakukan “appreciative inquiry” atau “semacam menggali dan menemukan kekuatan-kekuatan yang ada di komunitas maupun individu”. Metode ini sedang banyak dicoba oleh berbagai pihak sebagai model alternatif dalam upaya pecepatan MDGs. Dalam pemikiran kami di Bappeda, khususnya dalam konteks mendorong percepatan pencapaian MDGs, metode ini layak dicoba, dan disinergikan dengan pendekatan yang sudah diterapkan pemerintah. Langkah awal dari implementasi ini aadalah, menemukan aktor atau individu yang sudah melakukan perubahan dalam bidang-bidang yang relevan dengan MDGs. Ada 8 isu MDGs, yaitu mengurangi kemiskinan dan kelaparan, mensukseskan pendidikan dasar, mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menekan kematian bayi dan meningkatkan derajat kesehatan ibu melahirkan, memerangi HIV/AIDs dan penyakit menular, mendorong keberlanjutan lingkungan, serta kemitraan global untuk pembangunan. Sesuai dengan pendekatan “think globally, act locally”, maka dalam pemikiran kami, terbuka peluang untuk melakukan inisiatif melalui parade jawara ini. Pemerintah menyediakan “panggung” dan arena bagi mereka para jawara untuk menceritakan inisiatif yang sudah dilakukan, mendokumentasikan cerita tersebut dan menyebarluaskannya kepada sebanyak mungkin komunitas. Diharapkan akan muncul inspirasi-inspirasi baru, dan mendorong masyarakat bergerak melalui energi mereka sendiri. Prinsip pendekatan SBA adalah masyarakat akan bergerak bila mereka menemukan energi dalam dirinya sendiri, Tugas pemerintah adalah membantu masyarakat menemukan energi dan kekuatannya. Jika dikemas secara pas, maka Pemerintah tinggal mengalihkan dana yang tadinya untuk pemberian bantuan menjadi dana bagi pembuatan vent dan dokumentasi. Jika pemerintah bisa mengintrodusir pendekatan SBA ini, otomatis akan mengurangi bantuan-bantuan pemerintah karena disinyalir pemberian bantuan kepada masyarakat justru melemahkan energi mereka. Dalam sebuah survei yang dilakukan TKPD, persepsi masyarakat terhadap bantuan pemerintah adalah “gratis, tidak perlu dipertanggungjawabkan, dan tidak perlu dikelola secara transparan”. Maka pendekatan memberi bantuan harus diubah menjadi pendekatan memfasilitasi masyarakat untuk menemukan energinya, sehingga mau bergerak untuk perubahan dan peningkatan kesejahteraan. Dalam konteks itulah, kita menggagas Dialog Kemitraan Pemkab Wonosobo dengan Korporat dan Dunia usaha untuk mendorong inovasi percepatan pencapaian MDGs melalui parade jawara dan inspirator untuk Wonosobo lebih baik. Direncanakan, parade jawara ini akan bersamaan dengan Momentum Hari Jadi Wonosobo Tahun 2013. Tentu, draft gagasan yang kami paparkan ini masih perlu mendapat penguatan dan pengkayaan ide dari berbagai pihak. Secara tidak langsung, ide ini akan relevan dengan program percepatan pencapaian MDGs, Program pemulihan Dieng, Program Kemitraan CSR dalam bidang sosial serta program-program yang menyangkut hajat hidup orang banyak yaitu pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, serta infrastruktur perdesaan dan sanitasi lingkungan. Akhirnya, kami meminta apresiasi dan dukungan segenap pihak untuk merealisasikan gagasan ini, demi Wonosobo yang lebih baik.
disampaikan dalam acara Dialog kemitraan pemkab Wonosobo dengan Korporat dan Dunia Usaha bulan Desember 2012
Drs.Amin Suradi,M.Si ( Kepala Bappeda Kabupaten Wonosobo ) |