Monev Gabungan pelaksanaan kegiatan RKL tahun 2011. PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh ian   
Sabtu, 11 Februari 2012 15:34
Sabtu, 11 Februari 2012.
savedieng,11/02/2012.Untuk melihat dari dekat hasil pelaksanaan Program Rehabilitasi Lahan Kawasan Dieng tahun 2011 yang dipusatkan di dua desa yaitu Desa Slukatan Kecamatan Mojotengah dan Desa Maron Kecamatan garung, Hari ini Bappeda Kabupaten Wonosobo melaksanakan Monev gabungan yang dimulai sejak pagi hari sampai soren hari.

Selain Unsur Bappeda, Monev gabungan ini juga melibatkan TKPD , Dishutbun , LSM dan Dinas Peternakan dan perikanan
 
Jam Pertama Tim menuju Desa Slukatan dan langsung menuju ke Balai desa Slukatan yang sudah ditunggu oleh Kepala Desa dan Perangkatnya, BPD, Kelompok Perempuan Indah Lestari,Kelompok tani pelaksana demplot fisik, penerima bantuan domba dan penerima bantuan Lebah.

Desa Slukatan merupakan desa model konservasi yang sudah didampingi selama satu tahun dan diharapkan dapat menjadi desa yang perekonomiannya maju tidak terlalu tergantung dengan lahan dan lingkungan dapat lestari.

Beberapa Konsep dan langkah yang sudah dilakukan di desa Slukatan ini antara lain :
Sosialisasi Awal dengan Perangkat desa,Tokoh masyarakat dan unsur perempuan
  1. Bedah kecil RPJMDes
  2. Pelatihan Penilaian Titik Erosi dan Titik Potensi
  3. Pelatihan Peningkatan peran perempuan dalam mengatasi masalah lingkungan
  4. penggalian potensi ekonomi desa non lahan
  5. pelatihan managemen kelompok
  6. Magang pengelolaan Domba di Ciampea Bogor
  7. Belajar antar petani
  8. Pelatihan-pelatihan untuk kaum perempuan
  9. Pembentukan Balai Perempuan Indah Lestari
  10. Rehabilitasi Lahan, SPA dan Terjunan
  11. Penanaman tanaman Keras
  12. Pemberian bantuan Domba dan Lebah
  13. dan beberapa kegiatan lain yang bertujuan untuk peningkatan  pemahaman masyarakat akan arti pentingnya penyelamatan lingkungan.

Desa Slukatan merupakan desa yang dulunya dikenal bahkan sampai keluar negeri karena memiliki potensi unggulan berupa Kopi atau yang lebih dikenal di eropa dan amerika dengan sebutan java coffe slukatan Wonosobo  tapi saat ini yang sangat mungkin sudah dikembangkan sejak jaman penjajahan didaerah ini, seiring dengan perjalanan waktu populasi kopi slukatan ini sangat menurun dan saat ini sudah jarang dibudidayakan oleh warga.

selain melakukan pertemuan dengan warga, Tim Monev juga melakukan jelajah desa dan melihat kegiatan-kegiatan fisik yang sudah dilakukan di desa ini, untuk kegiatan fisik dilakukan di dusun Silandak .
 
Mahsun yang merupakan ketua kelompok tani pengelola demplot mengucapkan terima kasih atas kedatangan tim monev dan mengharap ada bimbingan yang tidak terputus dari dinas agar gairah warga untuk terus menanam tanaman keras dilahan milik kelompak tani tidak terputus, warga kami sudah banyak yang mencintai pohon akan tetapi masih dikelola dengan apa adanya, dengan program RKL ini pengetahuan warga banyak bertambah karena terlalu sering diajak pertemuan, walaupun sering meninggalkan pekerjaannya sebagai petani tapi dia merasa bersyukur karena mendapat tambahan pengetahuan tutup kang mahsun.

setelah selesai melakukan monev di desa Slukatan, Tim kemudian melanjutkan kegiatan di Desa Maron, dengan menyusuri jalan rolak batu menurun sebelum akhirnya sampai di jalan aspal, sekitar jam 13.20 menit tim sampai di Sanggar belajar desa Maron untuk senalnjutnya melakukan pertemuan dengan semua unsur pemerintah desa, kelompok tani dan Kelompok perempuan desa pengelola sampah desa maron yang terbentuk atas inisiatif warga yang difasilitasi dengan Program RKL tahun 2011.

Berbeda dengan desa Slukatan untuk desa Maron Kaum Perempuan memandang permasalahan sampah merupakan masalah besar yang selam ini tidak pernah tuntas diatasi, salah satu contohnya adalah adanya pencemaran lingkungan yang cukup menghawatirkan karena sebagian besar warga membuang sampah di sekitar telaga menjer, selain itu ada beberapa titik erosi yang berhasil di nilai oleh warga yang telah mengetahui tekniknya dari hasil pelatihan sebelumnya.

Rencana kedepan Kelompok pengelola sampah akan menangani semua permasalahan sampah yang sudah ada dan saat ini kelompok sudah membeli alat penghancur sampah yang dalam waktu tiga bulan ini ditargetkan sudah dapat beroperasi. sedaangkan untuk lokasi TPA ( tempat pengolahan sampah akhir) sudah disepakati bersama berada di tanah bengkok dan sudah melalui kesepakatan bersama.  dengan segala keterbatasanyang ada kami akan berusaha untuk menyukseskan program yang ada ungkap wachidun sekdes Maron yang juga aktif dalam hampir semua kegiatan RKL tahun 2011 lalu, yaitu dengan cara melibatkan semua warga di masing-masing RT/RW termasuk didalamnya dalamproses pengadaanberbagai keperluan yang dibutuhkan untuk pengolahan sampah, dengan semangat ibu-ibu pengelola sampah insya Allah akan berhasil , program dan kegiatan akan terus berjalan.

Kegiatan yang dilakukan program RKL Bappeda tahun 2011 ini juga hampir sama dengan yang dilakukan di desa Slukatan yang agak berbeda hanya soal komoditas dan keterlibatan perempuannya dan bidang garap yang ditanganinya

Agus Dwi Atmojo dari bagian fispra Bappeda yang sekaligus anggota Tim Tim Teknis TKPD yang ikut dalam Monev ini menyampaikan bahwa yang paling penting untuk saat ini adalah keseriusan warga untuk mau berproses bersama dalam rangka mewujudkan kelestarian lingkungan kawasan Dieng, Keterbatasan lahan memang harus diatasi dengan membekali warga dengan ketrampilan lain selain bertani, apalagi desa Maron ini memiliki potensi luar biasa berupa Telaga Menjer yang sangat terkenal tapi warganya belum dapat memanfaatkan potensi ini sebagai peluang untuk melakukan usaha.

Pemerintah memang sangat perlu untuk terus memikirkan dan berbuat sesuatu bagi penyelamatan kawasan Dieng, ini sangat urgen mengingat adanya ketidak seimbangan antara lahan dan jumlah penduduknya ini menyebabkan warga melakukan eksploitasi lahan secara berlebihan dan ini merupakan pilihan untuk bertahan hidup, ungkap Fahmi Hidayat Sekretaris TKPD dalam kesempatan yang sama. Memulihkan Dieng tidak segampang membalikkan telapak tangan, akan tetapi sejauh ini masih banyak pihak yang apabila ada bencana langsung menuding TKPD tidak melakukan apa-apa, hanya memboroskan anggaran dll, padahal apabila dengan asumsi semua program RKL berhasilpun fungsi lindung optimalnya baru dapat dirasakan sekitar 10 tahun mendatang,sangat mustahil hari ini menanam besok sudah berfungsi lindung dan  menghindarkan wargta dari bencana, ini merupakan proses panjang untuk menyelamatkan masa depan, lanjutnya.
Monev berakhir sampai sore hari setelah Tim mendapatkan banyak potret riel kondisi lapangan saat ini.
 
untuk tahun 2012 rencananya Tim gabungan akan melakukan kunjungan periodik ke 27 desa kawasan Dieng guna melihat dari dekat perkembangan program pemulihan dieng yang sudah mulai dilaksanakan tahun 2007/2008 sampai dengan tahun ini dan sudah masuk dalam perencanaan program kerja tahun 2012, tutup fahmi hidayat.

tafrihan.savedieng.org
Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 11 Februari 2012 16:08 )
 
Pendidikan Lingkungan Wajib Dilaksanakan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 04 Januari 2012 14:40
Kesepakatan tersebut tersebut merupakan hasil diskusi tematik yang cukup panjang dan sudah dilakukan empat kali, peserta diskusi tematik tersebut difasilitasi TKPD dengan melibatkan Dewan Pendidikan, Praktisi Budaya, unsur pendidikan dan LSM,

Kegiatan yang difasilitasi dari kegiatan RKL tahun 2011 ini semakin mengerucut pada kesepahaman bersama bahwa pendidikan lingkungan sudah tidak dapat ditawar Wajib Dilaksanakan oleh Dinas pendidikan oleh dikpora Kabupaten Wonosobo dan lebih khusus lagu 4 kecamatan yang masuk dalam kawasan Dieng.

Hari ini pelaksanaan kegiatan yang ke Empat kalinya dan dilaksanakan dengan memilih tempat di Laboratorium SMP I Mojotengah, dengan alasan SMP I Mojotengah merupakan sekolah yang selama 2 tahun berturut - turut mendapat penghargaan adiwiyata ,karena sekolah ini sudah menerapkan pendidikan lingkungan untuk semua siswa.

Dwi Yama yang membuka acara diskusi tematik dengan unsur pendidikan ini, menyampaikan ada kewajiban dari kita semua untuk membantu pemulihan Dieng ,apalagi kalau melihat kondisi, data dan realita saat ini ,secara gamblang akan mengancam kehidupan bagi generasi mendatang, Pendidikan lingkungan merupakan salah satu cara membuka kesadaran bersama akan pentingnya kepedulian lingkungan khususnya kawasan Dieng yang harus diselamatkan.

Fahmi Hidayat sekretaris TKPD  yang ikut aktif dalam diskusi tematik kurikulum pendidikan lingkungan ini menyampaikan permohonan agar semua pihak yang nantinya akan menyusun kurikulum tidak lepas dari 6(enam) isu penting permasalahan Dieng, karena 6 pilar tersebut merupakan kata kunci dari roadmap penyelamatan lingkungan kawasan Dieng tahun 2010-2015, enam pilar tersebut meliputi :
  1. Pengendalian pemanfaatan ruang sesuai peruntukan dan daya dukung kawasan
  2. Penumbuhan kembali kesadaran dan  modal sosial masyarakat (untuk berperilaku ramah lingkungan dalam pemanfaatan sumberdaya lahan), berbasis kearifan lokal
  3. Pengembangan sumber ekonomi yang tidak berbasis lahan
  4. Pengurangan risiko bencana melalui adaptasi dan mitigasi berbasis masyarakat
  5. Peningkatan kualitas keanekaragaman hayati serta mitigasi dan adaptasi perubahan iklim
  6. Penguatan peran dan pengembangan kolaborasi parapihak dalam mendukung Program pemulihan Dieng

Karena yang paling paham soal kurikulum adalah dikpora maka silahkan dikpora dan semua peserta yang hadir kali ini untuk membahas lebih tuntas, TKPD siap memberikan masukan dan referensi tekait dengan apapun yang dibutuhkan oleh peserta

Pembahasan lebih lanjut secara teknis dipandu oleh Faizi, S.Pd, M.Pd yang terlebih dahulu mengabsen keterwakilan dari semua unsur yang terkait dengan kurikulum, Sebelum diadakan pembahasan teknis, Riyono dan Dyah dua orang guru yang selama ini intens menangani pendidikan lingkungan di SMP I Mojotengah menyampaikan pengalaman dan Kurikulum/ bahan ajar yang sudah diterapkan disekolahnya.

Setelah mendengar masukan dari berbagai pihak, akhirnya diskusi yang kemudian dilanjutkan oleh Eko premono sebagai fasilitator diskusi memutuskan beberapa hal penting sebagai bahan rencana tindak lanjut terkait dengan bahan ajar pendidikan lingkungan yang harapannya tidak hanya dilakukan di Kawasan Dieng akan tetapi dapat diterapkan di Semua sekolah yang ada di Wonosobo.

kesepakatan tindak lanjut untuk teknis penyusunan bahan ajar/ kurikulum atau sebutan lain adalah :
  1. Dikpora Kabupaten Wonosobo akan membentuk Tim Perumus Kurikulum dan Tim Pengkaji
  2. Tim Pengkaji akan terlebih dahulu melakukan kajian terhadap bahan ajar tentang pendidikan lingkungan yang saat ini sudah ada sejak tahun 2002 di kabupaten Wonosobo tapi belum pernah diterapkan
  3. Melakukan kajian terhadap kurikulum pendidikan lingkungan yang sudah diterapkan di SMP I Mojotengah yang merupakan hasil kerja dari Tim dari Kabupaten Wonosobo dan BLH provinsi jawa Tengah
  4. TKPD menyediakan buku-buku tentang pendidikan lingkungan sebagai referensi tambahan
  5. Selanjutnya Tim Perumus yang terdiri dari orang-orang yang kompeten dan ahli dibidangnya akan melakukan penyusunan kurikulum
  6. setelah kurikulum selesai kemudian akan dilakukan bedah kurikulum yang melibatkan TKPD dan pihak lain seperti dari UGM, jajang Agus Sonjaya misalnya yang telah berhasil melakukan kegiatan serupa di Segara Anakan.
  7. Implementasi kurikulum tersebut nantinya akan dilakukan secara integratif pada semua mata pelajaran yang ada.

Pada kesempatan yang sama Edy Riyanto praktisi budaya Kabupaten Wonosobo mengusulkan agar dilakukan inventarisasi dan penulisan mitos masyarakat desa dari 265 desa yang ada di Kabupaten Wonosobo yang nantinya dapat memperkaya bahan ajar untuk pendidikan lingkungan , mengingat hampir semua mitos tersebut memiliki nilai luhur dan selalu terkait dengan upaya penyelematan lingkungan di desa yang bersangkutan.

taf.savedieng.org
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 Berikutnya > Akhir >>

Login Form